Sunday, 9 November 2008


Kita tahu subnet mask digunakan untuk memisahkan alamat IP jaringan dan host. Namun, bagaimana kita membuat subnet mask yang sesuai dengan kebutuhan jaringan? Sebelum ke situ, kita lihat dulu apa sebenarnya subnetting itu.

Kita ingin jumlah subnet sebanyak mungkin, jadi kita tinggal menggunakan semua bit yang tidak digunakan jaringan dan host. Ini berarti mengubah bit ke angka biner 1 seperti yang yang ditunjukkan pada gambar. Jika kita ubah kembali ke desimal, didapat 255.255.255.192. Subnet mask ini akan menghasilkan jumlah subnet sebanyak mungkin, di mana setiap subnet mendukung 60 host. Kita bisa mempunyai 110-2 (1022) subnet, dan 26-2 (62) host per subnet.

Subnet Mask Kelas C
Supaya lebih lengkap, mari kita buat juga subnet mask untuk alamat Kelas C. Karena alamat kelas C mempunyai jumlah host yang cukup terbatas, maka membuat subnet untuk alamat Kelas C sangat jarang dilakukan. Namun, ini adalah sesuatu yang perlu kita tahu. Subnet mask default untuk alamat Kelas C adalah 255.255.255.0. Sebagai contoh, mari kita asumsikan bahwa kita ingin mempunyai paling sedikit 12 subnet dengan jumlah host sebanyak mungkin pada setiap subnet.

Seperti biasa langkahnya selalu sama. Karena kita membutuhkan jumlah subnet tertentu, kita perlu menghitung jumlah bit yang dibutuhkan. Kita paling sedikit membutuhkan 12 subnet, berarti kita perlu “mengambil” paling sedikit 4 bit, karena 3 bit tidak akan mencukupi. 24-2 menghasilkan 14 subnet karena kita bekerja dengan alamat Kelas C, kita
hanya mempunyai sisa 4 bit host. Ini berarti subnet mask kita 255.255.255.240 akan menyediakan jumlah host yang cukup terbatas, yaitu 24-2, atau 14 host per subnet. Meskipun tidak terlihat praktis, kita telah memenuhi kebutuhan paling sedikit 12 subnet pada alamat Kelas C.

Menghitung Range Alamat IP
Setelah membuat subnet, langkah selanjutnya adalah menghitung range alamat IP yang valid untuk subnet. Ingat bahwa setelah membuat subnet mask, Anda telah mengubah satu alamat jaringan besar ke dalam alamat subnet yang lebih kecil. Oleh karena itu, suatu alamat tertentu tidak akan dianggap lokal oleh yang lain. Menghitung range alamat IP tidaklah sulit, kita mulai lagi dengan biner untuk mengetahui bagaimana itu dilakukan.

Sebagai contoh, misalkan kita mempunyai jaringan 192.168.0.0 dengan subnet mask 255.255.248.0. Ingat bahwa ini merupakan range alamat IP privat, dengan subnet mask default 255.255.255.0. Untuk memulai, kita perlu mengubah subnet mask tersebut ke biner, dan menentukan bagian jaringan, subnet, dan host, seperti yang ditunjukkan pada gambar. Perhatikan bahwa 16 bit pertama mewakili jaringan, 5 bit berikutnya mewakili subnet, dan 11 bit terakhir digunakan untuk host pada subnet.

Karena hanya 5 bit yang digunakan sebagai subnet, maka jumlah yang bisa kita dapat 25 -2 atau 30 subnet. Setiap subnet bisa mendukung 211-2 atau 1022 host. Menghitung range alamat IP yang tersedia untuk setiap subnet dimulai dengan subnet pertama yang tidak semua terdiri dari biner 0, dan kemudian subnet berikutnya. Di sini, subnet pertama adalah 00001. Host pertama pada subnet 00001 adalah nilai host paling rendah yang tidak semuanya 0, karena jika semua 0 itu menunjukkan subnet. Alamat paling tinggi pada range adalah nilai paling tinggi yang tidak semuanya 1, karena nilai tersebut digunakan untuk broadcast.

Jika mengambil alamat pada gambar dan mengubahnya kembali ke desimal, Anda akan mendapatkan range alamat IP yang tersedia pada subnet pertama adalah dari 192.168.8.1 sampai 192.168.15.254. Untuk menghitung range alamat IP berikutnya kita perlu mengubah subnet ID ke nilai berikutnya (00010). Untuk mempermudah, anggap saja mereka adalah 5 bit angka yang terpisah. Perhatikan bahwa pada waktu kita menganggapnya sebagai 5-bit angka yang terpisah, setiap subnet bertambah 1. Ini akan berlanjut terus sampai 11110, di mana pada titik tersebut kita sudah tidak mempunyai subnet lagi.

Ingat bahwa menurut Cisco, subnet ID yang semua terdiri dari 0 dan yang semua terdiri dari 1 harus dihindari.

Jika diperhatikan lebih saksama, Anda akan melihat adanya suatu pola—setiap subnet dalam contoh ini dimulai dengan kelipatan 8 pada oktet ketiga, dan masing-masing berakhir sebelum kelipatan 8 berikutnya. Di sini, subnet keempat akan dimulai pada kelipatan 8 berikutnya, 192.168.32.1 dan terus berlanjut sampai sebelum kelipatan 8 berikutnya pada oktet ketiga. Karena kelipatan 8 berikutnya adalah 40 (dan merupakan awal subnet mask berikutnya), maka harus berakhir pada 39 atau 192.168.39.254.

Apakah Alamat IP Saya Valid?
Misalkan kita mempunyai alamat jaringan 202.191.15.0 dengan subnet mask 255.255.255.240. Di sini kita tahu bahwa subnetting terjadi pada oktet keempat, dan kita mempunyai 4 bit subnet dan 4 bit host. Subnet pertama adalah nilai paling rendah yang bukan nol atau 0001. Host pertama pada setiap range adalah nilai pertama yang bukan nol dan host terakhir adalah nilai tertinggi yang semua biner-nya tidak bernilai 1.

Pada gambar, Anda bisa melihat tiga range pertama. Perhatikan bahwa nilai range sedikit berbeda pada waktu diubah ke desimal. Itu karena subnet ID berakhir dengan nilai yang bukan nol. Jika Anda bingung dengan contoh ini, mungkin karena keganjilan yang muncul pada range. Mengapa 202.191.15.16 bukan alamat IP yang valid pada waktu subnet mask 255.255.255.240 digunakan? Lihat kembali apa yang terjadi pada waktu Anda mengubah alamat tersebut ke biner—porsi hostnya semua bernilai 0, yang kita ketahui tidak diperbolehkan! Kunci untuk memahami range alamat IP selalu sama—jika merasa ragu, ubah semuanya ke dalam biner. Melihat alamat dalam bentuk desimal sering kali membuat sesuatunya lebih rumit dari yang seharusnya.

MENGAPA KITA MELAKUKAN SUBNETTING?
Alasan melakukan subnetting bervariasi, tetapi umumnya terbagi dalam tiga kategori utama, yaitu:

  • Mendapatkan kinerja yang lebih baik. Dengan membagi satu jaringan besar ke dalam jaringan-jaringan yang lebih kecil, traffic pada masing-masing jaringan bisa dikurang, sehingga menghasilkan kinerja yang lebih baik.
  • Mempermudah pengaturan. Pada jaringan yang lebih kecil, kompleksitas pengaturan bisa dikurangi, sehingga troubleshooting dan monitoring bisa lebih mudah.
  • Menghubungkan jarak geografis. Banyak jaringan sekarang yang secara geografis terpisah tetapi saling berhubungan, dengan subnetting lokasi yang jauh (dan koneksi WAN antarjaringan) bisa dianggap sebagai satu jaringan individu, sehingga menghasilkan kinerja yang lebih baik.

Sumber : http://www.pcmedia.co.id/detail.asp?id=829&Cid=22&cp=2&Eid=19

0 komentar:

Post a Comment

Unordered List

Sample Text

Powered by Blogger.

Tentang Kami

My photo
Clark, seorang penggemar sesuatu yang super. Mencoba untuk berbagi segala sesuatu yang diketahuinya.

Pembaca

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget