Santetkah..? Atau...?

Belasan kawat keluar dari perut Noorsyaidah, ketika ditemui di rumahnya di Samarinda, Kalimantan Timur.

SAMARINDA - Upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang pintar sudah dilakukan Noorsyaidah untuk menyembuhkan penyakit yang dideritanya, tapi kawat-kawat berduri yang tumbuh disekitar perut hingga bagian dadanya itu tak juga hilang bahkan terus tumbuh.

Noorsyaidah adalah guru TK di Sangatta, Kutai Timur, yang selama 17 tahun menderita penyakit aneh. Dari dalam tubuhnya bermunculan potongan-potongan kawat sepanjang 10 hingga 20 sentimeter.

Noorsyaidah bahkan telah melakukan pengobatan ke luar Kalimantan, tepatnya di sebuah rumah sakit terkenal di Surabaya, Jawa Timur. Namun, nasib baik tetap tidak berpihak kepada perempuan berusia 40 tahun ini karena setelah kawat dicabut dari tubuhnya, beberapa hari kemudian bermunculan lagi.

Untuk mengeluarkan kawat tersebut memang tidak mudah karena kawat sangat melekat erat di badannya. Noor bercerita, pernah suatu saat ia dibantu kakak kandungnya mencoba untuk mencabutnya sendiri, tetapi yang terjadi justru kawat tersebut masuk ke dalam tubuhnya dan beberapa saat kemudian muncul kembali di bagian badannya yang lain.

Kakak kandung Noor, Hj Siti Robiah, menceritakan, penah juga menyaksikan langsung operasi yang dilakukan oleh empat orang dokter spesialis bedah terhadap adiknya itu. Para dokter tersebut bahkan terpaksa menggunakan besi berani (magnet) agar kawat bisa ditemukan dalam tubuh Noor.

"Karena kawat-kawat itu tidak hanya yang bermunculan di tubuh Noor, tapi hasil rontgen memperlihatkan ada puluhan kawat lagi di dalam perut dan di dalam perut itu seperti hidup bisa lari-lari atau berpindah tempat. Makanya, saat dibedah para dokter terpaksa menggunakan besi magnet agar besi kawat bisa ditemukan dan diambil. Dan, itu tadi, setelah diangkat kawat-kawat itu beberapa hari kemudian bermunculan lagi," ujar Robiah.

Bentuk kawat yang tumbuh di badan Noor memang tak jauh berbeda dengan jenis kawat lainnya, besarnya seperti peniti berukuran besar. Saat Tribun memegang salah satu kawat yang sempat dikoleksi Noor, kawat tersebut seperti kawat biasa, mudah berkarat dan sudah berwarna kecoklatan. Panjangnya pun bervariasi, mulai dari 10 sentimeter hingga sekitar 20 sentimeter, ada yang hanya satu sisi yang runcing dan lainnya kedua sisi runcing.

"Ya, seperti biasa kawat-kawat lainnya, tapi itu kalau sudah terjatuh dari badannya. Tapi, kalau yang melekat di badan, bisa berubah-rubah warna, mulai dari hitam pekat, kuning, hingga kembali normal kecoklatan," ujar Robiah. (muh khaidir)
Sumber : http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/11/0701180/kawat.masuk.perut.saat.akan.dicabut.sendiri.11

Noorsyaidah menunjukkan beberapa potongan kawat yang berhasil dikeluarkan dari perutnya kepada fotografer Tribun Kaltim


SAMARINDA - Direktur Rumah Sakit Umum (RSU) AW Syahrani Samarinda dr Ajie Syirafuddin DHM MMR benar-benar memenuhi janjinya untuk menemui dan melihat langsung kondisi Noorsyaidah, Rabu (9/7). Ajie datang bersama rombongan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim Sutarnyoto ke Jalan Merdeka III, Samarinda Ilir.

Tiba sekitar pukul 09.30 Wita, mereka disambut suka cita Noorsyaidah dan keluarganya. Apalagi niat kedatangan Dirut RSU AW Syahrani dan dinkes tersebut untuk memberikan pelayanan dan tempat khusus di RSU AW Syahrani tanpa memungut bayaran. "Semula saya memang tidak percaya sama sekali ada besi kawat yang bisa menancap di tubuh seseorang, apalagi bertahan hingga 17 tahun. Tapi setelah melihatnya langsung, sungguh luar biasa dan di luar kemampuan saya sebagai seorang dokter untuk memahaminya," kata Ajie heran setelah Noor memperlihatkan bagian perutnya yang ditumbuhi kawat itu kepadanya.

Ajie bahkan sempat beberapa saat memegangi perut Noor untuk memastikan bahwa besi kawat yang tumbuh itu benar-benar timbul dari dalam, bukan rekaan. "Ini memang kawat asli, bukan kawat bentukan. Bahkan ternyata tidak hanya yang muncul di luar saja, tapi setelah saya periksa di dalam perut Ibu Noor juga ada kawat-kawatnya. Luar biasa dan di luar jangkauan ilmu medis ini namanya," ujar Ajie yang tak bisa menyembunyikan rasa herannya.

Ajie juga mengambil contoh kawat untuk diteliti di laboratorium RSU AW Syahrani. "Jadi selain menyediakan ruangan dan pelayanan khusus buat Ibu Noor, RSU AW Syahrani juga akan menguji laboratorium kawat-kawat yang tumbuh di perut Ibu Noor itu, kita tunggu saja dalam dua atau tiga hari ini, mudah-mudahan sudah ada hasil dari uji lab itu," terangnya.

Kepala Dinkes Kaltim Sutarnyoto juga tak bisa menyembunyikan keterkejutannya setelah melihat langsung kondisi Noorsyaidah. Sutarnyoto langsung membenarkan bahwa kawat tersebut memang asli. "Yang jelas kami sudah melihatnya langsung, karena itu dalam dua atau tiga hari ini juga, sembari menunggu hasil uji laboratorium RSU AW Syahrani atas sample kawat itu, kami akan segera melaporkan perkembangannya kepada Departemen Kesehatan (Depkes) di Jakarta," kata Sutarnyoto.

Pada malam harinya, sekitar pukul 22.00, Kepala Rumah Sakit Umum Sangatta dr Andi Baji bersama rombongan juga tiba di tempat Noorsyaidah. Menurut Andi Baji, RSU Sangatta juga menawarkan perawatan khusus. "Dia kan bekerjanya di Sangatta, jadi pengobatan akan lebih mudah dilakukan jika dari RS setempat. Mudah-mudahan maksud kedatangan kami yang langsung dari Sangatta ini disambut baik oleh Ibu Noor dan dia mau dirawat oleh kami," ujarnya. (aid/don)

NOORSYAIDAH terus menahan sakit dari penyakit aneh yang dideritanya. Di perut dan dada perempuan berusia 40 tahun ini bermunculan puluhan batang kawat sepanjang sekitar 20 cm.

KuAsa TuHan

“Mungkin Tuhan ingin memperlihatkan kepada dunia bahwa dengan kekuasaan-Nya apapun bisa saja terjadi dan sayalah orang yang dipilih untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya itu. Maka itu saya harus menjalaninya dengan tabah,” kata Noor dengan pasrah.

Saat ditemui di kediaman saudara perempuannya di Jalan Merdeka III, Samarinda Ilir, Noor terpaksa harus berjalan membungkuk agar kawat-kawat di perutnya itu tidak mengenai baju kaos berwarna merah yang dikenakannya.

Bahkan, Noor pun hanya bisa duduk di pinggir kursi dan tetap membungkuk karena sedikit saja dia bergerak, kawat di tubuhnya itu akan menyentuh kain bajunya dan nyeri akan dirasakannya.

“Ini karena ada Mas (wartawan Tribun Kaltim) saja saya pakai baju, biasanya saya tidak pakai baju karena terus terang saja kawat-kawat ini kalau menyentuh barang apa saja rasanya sangat sakit sekali,” ujarnya sembari menyingkapkan bajunya dan memperlihatkan kawat-kawat yang tumbuh di bagian perutnya itu.

Guru aktif TK Al-Quran di Sangatta, Kutai Timur, ini menceritakan, penyakit yang dideritanya itu dialami sejak tahun 1991. Tanpa sebab musabab kawat-kawat itu tiba-tiba saja bermunculan di perutnya dan bagian dadanya. Padahal, saat itu dia sedang menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Sospol Universitas Mulawarman Samarinda.

“Tapi, kalau dulu hanya sekitar seminggu kawat-kawat itu berjatuhan sendiri dan hilang. Nanti sekitar sebulan kemudian bermunculan lagi. Nah, sekarang ini sudah sekitar enam bulan lebih, kawat-kawat di perut saya ini tidak ada yang jatuh atau hilang. Jadi, sungguh menderita sekali,” katanya.

Segala upaya pengobatan, mulai dari medis, alternatif, hingga mendatangi orang pintar sudah dilakukannya. Namun, penyakit tersebut tetap tak sembuh. Operasi mungkin sudah puluhan kali dialaminya, tetap saja kawat-kawat itu setelah dicabut dengan cara medis tak mau hilang dari dirinya.

“Semua orang bilang bahwa penyakit saya ini terkena santet atau semacamnya, tapi berani jujur bahwa saya ini tak pernah punya musuh atau menyakiti orang lain. Makanya, dokter atau orang pintar yang mengobati penyakit saya ini juga bingung untuk menyembuhkannya,” ujarnya.

Saat ini, untuk menghilangkan perasaan sakit atau stres akibat penyakit yang dialaminya itu tak kunjung sembuh, Noor mengaku lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial, misalnya mengajar. “Tapi, kalau malam sudah datang, ya terpaksa harus terpikir, kenapa saya mengalami nasib seperti ini. Mudah-mudahan saja suatu saat ada hikmahnya buat saya, amin,” katanya penuh harap.

Begitu banyak permasalahan di dunia sekarang ini.. Dari beberapa permasalahan besar terkadang masih bisa dijelaskan dengan akal sehat.

Berita di atas mengingatkan kita, bahwa masih banyak hal yang tak bisa kita mengerti, dan mungkin tidak akan kita mengerti, karena itu rahasia Tuhan.

Semoga Ibu Noor dikaruniai kekuatan untuk menghadapi cobaan yang dilimpahkan padanya..

Amiiieen..


Share on Google Plus

About Elang Raja

Menulis, menyusun, menyimpan dan mengingat beberapa gal yang sudah dan ingin ditelusuri dalam keseharian yang biasa biasa saja ini.

1 komentar:

  1. Subhanallah... Jika benar sememang aneh. Ini adalah kebesaran Allah. tentu ada hakhmahnya semoga dapat bersabar dan berusaha.

    BalasHapus